Website Resmi MTs Muhammadiyah Sungai Batang: Tokoh
Headlines News :
Selamat Datang di MTs Muhammadiyah Sungai Batang | Jl Lingkar Maninjau Km 5.5 Muaro Pauah Sungai Batang 26472 | Kritik, Saran dan Masukan Silahkan Dikirimkan ke email : info@mtsm-sungaibatang.com

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Mengenal HR Rasuna Said

Written By Anonim on Minggu, 02 September 2012 | 01.57

“Pintu menuju kemerdekaan sudah terbuka, dan kami berharap kalian mengabarkannya kepada seluruh kawan dan kenalan. Kami semua punya satu tujuan. Memperjuangkan hak kami, yakni membentuk Indonesia yang merdeka dan bebas dari jajahan asing,” kata Rasuna dalam sebuah aksi menentang penjajahan. Ketegasan Rasuna harus dibayar mahal. Bersama rekannya, Rasimah Ismail, dia ditangkap dan dipenjarakan di Semarang.

Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah sosok pendidik, wartawan dan politisi ulung. Dia lahir dari keluarga keturunan bangsawan Minang di Maninjau, Sumatera Barat pada 14 September 1910.

Pendidikan Rasuna kecil dimulai di pesantren Ar Rasyidiyah sebagai satu-satunya murid perempuan. Saat kelas 5, dia mulai mengajar untuk anak-anak dari kelas lebih rendah. Berpindah-pindah guru, Rasuna terus belajar, juga belajar teknik pidato. Pidato Rasuna dikenal “laksana petir di siang hari”.

Rasuna masih berusia 16 tahun saat bergabung di organisasi politik pertamanya, Sarekat Rakyat — sebuah organisasi yang juga dimotori Tan Malaka. Dia juga tak melupakan gairah pertamanya: mengajar.

Rasuna mendirikan sekolah “Menjesal” di Sumatera Barat, sekolah kelas rendah di Padang dan sekolah khusus putri di Bukittinggi. Para murid di sekolahnya diajarkan pentingnya kesadaran politik rakyat.

Dari Sarekat Rakyat, Rasuna berpindah ke Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), yang tumbuh dengan cepat di Sumatera Barat dengan 10 ribu anggota di 160 cabang. Partai ini populer karena tak takut mengawinkan politik dan agama. Rasuna menjadi salah satu tokoh perempuan paling menonjol di sini. Secara blak-blakan dia mengajak rakyat menuju perjuangan Indonesia merdeka.

Rasuna juga menemukan minat baru menjadi wartawan dan menerbitkan majalah Menara Putri. Gaya penulisannya blak-blakan dengan semboyan “Ini dadaku, mana dadamu.”

Majalah ini menyebarkan ide mengenai perempuan dan segala permasalahannya. Dia meyakinkan pembaca, perempuan punya peran yang sama dalam penjuangan kemerdekaan. Perempuan juga punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki. Perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan, jaminan ekonomi dan memiliki tempat dalam dunia politik.

Karier politik membawa Rasuna hijrah ke Jakarta. Setelah proklamasi kemerdekaan, Rasuna menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera Barat. Dia juga anggota Dewan Pertimbangan Agung yang memberikan saran pada Presiden Soekarno.

Dia dikenang sebagai aktivis perempuan pertama yang memperjuangkan hak-hak politik perempuan. Menurutnya, politik bukan hanya milik laki-laki. Politik tak bisa dipisahkan dari peran serta perempuan.



HR Rasuna Said (Hajjah Rangkayo Rasuna Said) seorang orator, pejuang (srikandi) kemerdekaan Indonesia. Pahlawan nasional Indonesia ini lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 15 September 1910 dan wafat di Jakarta, 2 November 1965 dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Seorang puteri terbaik bangsa yang tak hanya sekadar memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita.

HR Rasuna Said diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974. Selain itu, sebagai penghormatan atas perjuangannya, namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, termasuk bagian segi tiga emas Jakarta.

Dia pejuang yang berpandangan luas dan berkemauan keras. Sejak muda berjuang melalui Sarekat Rakyat sebagai Sekretaris Cabang. Kemudian aktif sebagai anggota Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Dia seorang orator yang sering kali mengecam tajam kekejaman dan ketidakadilan pemerintah Belanda. Dia tak gentar kendati akibatnya harus ditangkap ditangkap dan dipenjara pada tahun 1932 di Semarang.

Ketika pendudukan Jepang, Hajjah Rangkayo Rasuna Said ikut serta sebagai pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang. Organisasi ini pun kemudian dibubarkan oleh Pemerintah Jepang.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan dia aktif sebagai anggota Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat. Kemudian terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS). Tahun 1959, kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sampai akhir hayatnya 1965. 

Nama         : Hajjah Rangkayo Rasuna Said
Lahir           : Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 15 September 1910
Meninggal : Jakarta, 2 November 1965
Agama       : Islam
Jab. Akhir  : Anggota DPA
Anak          :
Auda Zaschkya Duski (putri)
Cucu          :
Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul’Ain.
Perjuangan:
- Sarekat Rakyat sebagai Sekretaris Cabang
- Anggota Persatuan Muslim Indonesia (PERMI).
- Orator, ditangkap dan dipenjara Belanda di Semarang, 1932
- Ikut serta sebagai pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang
- Anggota Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat
- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR   RIS).
- Anggota Dewan Pertimbangan Agung, 1959-1965.
Penghargaan:

Pahlawan Nasional (Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974).

Sekilas H Abdul Karim Amrullah

Written By Anonim on Sabtu, 01 September 2012 | 22.49

"Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul adalah orang yang berjasa dalam menegakkan fondasi pembaharuan Islam di Minangkabau melalui surau Jembatan Besi, yang kemudian berkembang menjadi Sumatra Thawalib tahun 1918. Selanjutnya, lembaga pendidikan itu melahirkan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), sebuah partai politik pada permulaan tahun 1930" (Deliar Noer)

"Abdul Karim Amrullah, bersama-sama dengan Haji Abdullah Ahmad dan Syekh Jamil Jambek, adalah penggagas pertama dan sekaligus pemuka Kaum Muda dalam menyebarkan pembaharuan Islam. Ia juga orang yang berjasa dalam membawa ajaran Muhammadiyah, sebuah organisasi pembaharu yang lahir di Yogyakarta tahun 1912, ke Minangkabau tahun 1925" (Taufik Abdullah)


Haji Abdul Karim Amrullah (selanjutnya : Abdul Karim Amrullah) lahir pada tanggal 10 Februari 1879 bertepatan dengan 17 Syafar 1296 Hijriah di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Pada masa kecilnya, beliau diberi nama Muhammad Rasul, namun setelah menunaikan ibadah haji, namanya diganti menjadi Abdul Karim Amrullah. Beliau juga dikenal dengan panggilan Inyiak De-er (Dr.), karena pada tahun 1926 beliau mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar di Mesir dalam bidang agama. Ayahnya bernama Syekh Amrullah atau Tuanku Kisai atau dalam beberapa literatur sering ditulis dengan Syekh Amrullah Tuanku Kisa-i, seorang guru tarekat Naqsyabandiyah di Maninjau. Pada usianya yang relatif masih muda, yakni sekitar usia 10 tahun, beliau disuruh mengaji Al-Qur`an kepada Muhammad Shalih dan Haji Hud di Tarusan, Pesisir Selatan. Setahun kemudian, ia belajar berbagai ilmu agama kepada ayahnya, Syekh Amrullah di Sungai Batang, Maninjau. Pada usianya memasuki 15 tahun ia berangkat ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama atas perintah ayahnya. Dalam kepergiannya ini, ia tinggal di Mekkah selama lebih kurang 7 tahun (1894-1901) dan selama di sana ia belajar kepada beberapa orang guru, diantaranya adalah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Taher Jalaluddin, Syekh Muhammad Djamil Djambek (ketiga guru itu berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat), Syekh Abdul Hamid, Syekh Usman Serawak, Syekh Umar Bajened, Syekh Shalih Bafadal, Syekh Hamid Jeddah, Syekh Sa’id Yamani.

Dari sekian gurunya, Ahmad Khatib merupakan guru yang sangat dikagumi dan disebut-sebutnya, demikian Hamka menceritakan. Setelah ia kembali dari Mekkah tahun 1901, ia dinobatkan sebagai seorang ulama muda dengan gelar Syekh Tuanku Nan Mudo, sedangkan ayahnya, Syekh Muhammad Amrullah diberi gelar Syekh Tuanku Nan Tuo dengan suatu upacara. Tuanku Nan Tuo beraliran lama, sedangkan Tuanku Nan Mudo seorang pemuda yang membawa aliran baru. Pada tahun 1904 ia kembali ke Makkah dan kembali ke kampungnya tahun 1906. Kepergian yang kedua kalinya ini, disuruh ayahnya untuk mengantar adiknya belajar di sana. Namun, kesempatan ini dimanfaatkannya untuk mengajar pada halaqah sendiri di rumah Syekh Muhammad Nur al-Khalidi di Samiyah atas izin dari Ahmad Khatib. Namun demikian, ia sering bertanya kepada gurunya, Syekh Ahmad Khatib mengenai masalah-masalah yang rumit. Di antara murid-murid Ahmad Khatib yang sama-sama berasal dari Minangkabau pada waktu beliau di Mekkah ini adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek dan Syekh Muhammad Zain Simabur. Setelah pulang ke Minangkabau, kedua muridnya itu ikut serta mensponsori gerakan pembaharuan yang dalam sejarah intelektual Islam Minangkabau menjadi salah satu momentum penggerak sejarah yang paling signifikan.

Usaha yang pertama dilakukan setelah kepulangannya dari Makkah untuk kedua kalinya ini adalah menumpas faham taqlid, bid’ah, dan kurafat yang bercampur-baur dengan ajaran agama. Untuk itu, ia aktif memberikan pengajian, tabligh, diskusi-diskusi atau polemik-polemik dengan orang-orang yang memper-tahankannya. Hal ini dilakukannya, bukan saja di Sungai Batang, Maninjau, kampung halamannya sendiri, akan tetapi juga sampai ke Bukittinggi, Padang Panjang, Matur, Padang, dan berbagai pelosok Minangkabau. Menurut Tamar Djaja, beliau adalah seorang yang ahli berpidato (orator) dan selalu mendapat sambutan hangat dan antusias dari para pendengarnya. Pidatonya keras, tegas, lugas dan berapi-api yang pada prinsipnya membangkitkan semangat dan kesadaran. Pidatonya selalu memberikan pencerahan dan pendewasaan berfikir pada masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukannya bersifat keras, tanpa maaf dan tanpa kompromi dalam mempertahankan kebenaran. Pengajian-pengajiannya ditandai dengan kecaman dan serangan terhadap segala per-buatan yang bertentangan dengan semangat pembaharuan, yang berdasarkan kepada al-Qur`an dan Hadits, baik dalam masalah aqidah, ibadah, maupun dalam masalah mu’amalah. Untuk itu, sasaran dakwahnya selalu mengecam dan menentang perbuatan yang berbau taqlid, bid’ah, dan khurafat. Usahanya dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, serta mengecam perbuatan bid’ah dilakukannya dengan tidak pandang bulu – atau dalam istilah Minangkabau : beliau tidak “tibo dimato dipiciangkan, tibo diparuik dikampihkan. Hal ini, terbukti sewaktu beliau menentang menyelenggarakan perhelatan (kenduri) selama tujuh hari dari hari kematian ayahnya (menujuh hari). Argumentasi dari penolakan beliau terhadap perbuatan yang boleh dikatakan telah “mentradisi” pada masa beliau ini adalah karena perbuatan ini merupakan perbuatan bid’ah.

Abdul Karim Amrullah adalah seorang yang sangat tidak setuju dengan ajaran tarekat, meskipun ayahnya sendiri adalah seorang Syekh tarekat Naqsyabandiyah. Perbedaan faham antara beliau dengan ayahnya mengenai ajaran tarekat, bukanlah menjadikan beliau, secara pribadi, durhaka dan melecehkan ayahnya. Demikian pula sebaliknya, ayahnya tidak merasa disaingi oleh anaknya sendiri, bahkan ia merasa bangga melihat kedalaman ilmu yang dimiliki anaknya. Dalam berbagai literatur, dinyatakan bahwa sang ayah – Tuanku Kisai – tidak pernah merasa “gagal” mendidik dan menyekolahkan anaknya hingga ke Mekkah karena berseberangan pemikiran dengannya, khususnya masalah tareqat. Beliau tidak pernah mengintervensi apalagi menganggap pemikiran Abdul Karim Amrullah harus sesuai dengan pemikiran beliau. Untuk menjelaskan posisi ajaran tarekat dalam pandangan Islam, ia menulis dua buah buku. Pertama, Izhhaar Asaathir al-Mulhidin fi Tasyabbuhihim bi al-Muhtadiin, tahun 1908, buku ini mengecam tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian yang kedua, Qathi’u Riqab al-Mulhidin fi ‘Aqaid al-Mufsidiin, tahun 1914, buku ini menentang ajaran tarekat Syatariyyah. Menurutnya, ajaran tarekat dapat memberi peluang untuk tumbuh dan berkembangnya taqlid dan bid’ah dalam agama. Sikap patuh dan mengkultuskan guru akan mengakibatkan tidak berfungsinya akal manusia dalam memikirkan sesuatu. Akibatnya al-Qur`an dan Hadits hanya dijadikan simbol untuk mencari kebenaran. Oleh karena itu, sering terjadi polemik antara dia dengan ulama yang mempertahankan ajaran tarekat. Ulama yang mempertahankan tarekat dan senantiasa berpegang kepada sikap taqlid populer dikenal dengan nama Kaum Tua. Sedangkan ulama yang menentang ajaran tersebut populer dengan nama Kaum Muda. Pemberian nama Kaum Muda dan Kaum Tua ini, sebenarnya, berawal dari jarak usia antara kedua kelompok tersebut. Kaum Muda, pada umumnya, didominasi oleh ulama yang muda-muda (di bawah usia empat puluh tahun) dan membawa pemikiran baru, sedangkan Kaum Tua, didominasi oleh ulama yang tua-tua dan mempertahankan tradisi lama.

Sejak tahun 1911, Abdul Karim Amrullah menetap di Padang Panjang dan memimpin pengajian surau Jembatan Besi. Atas usaha dan inisiatif yang dilakukannya, pengajian surau Jembatan Besi ini semakin hari semakin berkembang dan semakin banyak muridnya. Mereka bukan saja datang dari daerah Padang Panjang, tetapi juga berasal dari berbagai daerah di seluruh pelosok Minangkabau dan bahkan ada yang dari Aceh, Medan, Riau, Palembang, dan Bengkulu. Dalam mem-berikan pelajaran, ia masih menggunakan sistem lama, yakni sistem halaqah (murid duduk di lantai beserta guru, serta mereka mengelilingi guru yang memberikan penjelasan mengenai pelajaran). Tetapi, metode yang digunakannya sudah dikembangkan ke arah kebebasan berfikir. Ia memberi kesempatan kepada murid-muridnya untuk mendiskusikan berbagai permasalahan keagamaan yang muncul. Dalam diskusi tersebut, masing-masing murid harus dapat meneluarkan pendapatnya yang disertai dengan alasan atau dalil Al-Qur`an dan Hadis. Dalam proses perjalanannya, Surau Jembatan Besi tersebut berkembang menjadi lembaga pendidikan modern, Sumatera Thawalib, tahun 1918. Setelah itu berdirilah beberapa Sumatera Thawalib di Parabek, Padang Japang, Sungayang, Maninjau, dan lain sebagainya. Dalam perjalanannya yang panjang itu, baik Surau Jembatan Besi, maupun Sumatera Thawalib Padang Panjang, serta Sumatera Thawalib lainnya di berbagai pelosok Minangkabau telah mencetak kader-kader pembaharuan Islam yang bergerak dalam berbagai aspek kehidupan, seperti menjadi guru, mubaligh, wartawan, pedagang, dan lain sebagainya. Mereka tersebar, bukan saja di seluruh pelosok Minangkabau, tetapi juga ke daerah-daerah Sumatera lainnya, ke Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain.

Bersama-sama Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah, mendirikan majalah Al-Munir, tahun 1911-1915 di Padang. Majalah ini bertujuan sebagai ”pemimpin dan memajukan anak-anak bangsa kita pada agama yang lurus dan beriktikat baik dan menambah pengetahuan yang berguna dan mencari nafkah kesenangan hidup supaya sentosa pula mengerjakan seluruh agama. Juga, untuk mempertahankan Islam terhadap segala tuduhan dan salah sangka”. Majalah dua mingguan ini memuat artikel untuk meningkatkan pengetahuan para pembacanya dan sekaligus sebagai pembawa suara kelompok Kaum Muda dalam menyuarakan berbagai pembaharuan dalam rangka perbaikan umat. Kemudian, ia juga menerbitkan majalah Al-Munir Al-Manar di Padang Panjang bersama Zainuddin Labay el-Yunusi tahun 1918. Pada tahun 1916 Abdul Karim Amrullah melawat ke Malaya dalam rangka memperluas pandangan dan usaha penerbitan kembali majalah Al-Munir, yang sudah tidak terbit sejak tahun 1915. Ia pergi bersama-sama dengan Syekh Daud Rasyidi dan adiknya, Haji Yusuf Amrullah, serta muridnya Saleh. Namun kehadirannya di sini, ternyata mendapat tantangan dari mufti di sana, yakni Syekh Abdullah Shaleh yang sama-sama belajar di Makkah. Ia dituduh sebagai kaum Wahabi dan Kaum Muda. Tahun berikutnya, yakni tahun 1917, ia pergi melawat ke Jawa. Di Surabaya ia bertemu dengan H.O.S. Cokroaminoto, tokoh Serikat Islam, dan di Yogyakarta bertemu dengan KH. A. Dahlan, pendiri Muhammadiyah. KH. A. Dahlan sudah sering membaca tulisan-tulisannya dalam majalah Al-Munir. Pada tahun 1918, ia bersama-sama Abdullah Ahmad, Syekh Muhammad Djamil Djambek Bukittinggi, Zainuddin Labay el-Yunusi dan guru-guru lainnya mendirikan Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) Sumatera.

Pada tahun 1925, ia melawat ke Jawa untuk yang kedua kalinya. Di Yogyakarta, ia bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah, terutama dengan H. Fakhruddin. Dalam per-temuan itu mereka saling mengungkapkan perkembangan Islam di daerah mereka masing-masing. Ia tertarik dengan organisasi Muhammadiyah, karena disamping ideologinya mengacu kepada ajaran al-Qur`an dan Hadis, juga amal usahanya mencakup berbagai aspek ajaran Islam, seperti menyelenggarakan pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah, melaksanakan amal sosial dengan mendirikan rumah-rumah pemeliharaan anak yatim dan fakir miskin dan lainnya. Sekembalinya ke kampung, ia menceritakan pengalamannya kepada kawan-kawannya mengenai organisasi Muhammadiyah dan amal usahanya dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Ia yakin bahwa organisasi itu dapat berguna untuk melemahkan bekas muridnya, H. Datuk Batuah dan kawan-kawan, yang aktif dalam organisasi komunis. Pada tahun itu juga ia mendirikan Muhammadiyah di Sungai Batang, Maninjau melalui lembaga Sendi Aman yang didirikan tahun 1925. Setelah Sendi Aman menjalankan misi Muhammadiyah, lembaga ini berkembang dengan cepat dan sekaligus menjadi basis pertama Muhammadiyah di Minangkabau.

Menurut Taufik Abdullah, usaha Abdul Karim Amrullah dalam memperkenalkan Muhammadiyah di Minangkabau pada tahun 1925 merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dari totalitas per-juangannya dalam pembaharuan Islam di Minangkabau. Pada tahun 1926, Abdul Karim Amrullah bersama dengan Abdullah Ahmad sebagai utusan dari Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) di Sumatra pergi ke Mesir untuk menghadiri kongres Islam di Kairo. Kedatangan dua utusan dari PGAI Sumatra (Indonesia) ini, yakni Haji Abdul Karim Amrullah dan Haji Abdullah Ahmad, di Kairo mendapat perhatian khusus dari kongres. Atas penyelidikan sebuah panitia terhadap perjuangan kedua utusan itu di tanah air mereka, maka kongres yang dipimpin oleh Syekh Husain Wali, seorang guru besar Al-Azhar, memberikan penghargaan kepada keduanya dengan gelar kehormatan Doctor (Doctor Honoris Causa) dalam bidang agama Islam. Kemudian, kedua utusan itu dibawa menghadap penganjur Mesir Saat Zaghul Pasya untuk mendengarkan nasihatnya. Perjalanannya ke luar negeri, seperti pergi ke Malaya tahun 1916, ke Mesir tahun 1926, di samping perjalannya ke Makkah dalam rangka menuntut ilmu tahun 1894-1901 dan 1903-1906, dan juga perjalanannya ke tanah Jawa tahun 1917 dan 1925 telah menggerakkan dan memperkuat semangat pembaharuannya dalam rangka kemajuan Islam di Minangkabau. Di tambah lagi pada saat itu, sedang gencar-gencarnya ide pembaharuan Islam yang dihembuskan dari Mesir, seperti gerakan yang dilakukan oleh Jalaluddin al Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Rida dan lainnya di Timur Tengah dan India. Semuanya itu memperkokoh keinginannya untuk mengadakan pembaharuan dengan cara kembali kepada al-Qur`an dan Hadis. Gagasan pembaharuan Islam, bukan saja disampaikannya melalui media dakwah (tabligh, pengajian) dan pendidikan sekolah, tetapi juga melalui karya-karya tulisannya yang tajam. Ia banyak menulis buku, baik yang telah diterbitkan maupun masih dalam tulisan tangan dan beberapa artikel dalam majalah Al-Munir. Ketajaman tulisannya itu menggambarkan kekokohan pendirian dan kedalaman ilmunya.

Dalam memperjuangkan Islam, ia bersama kawan-kawan menentang dilaksanakannya Ordonansi Guru di Minangkabau. Sikap keras dan tegasnya dalam menyuarakan ide pembaharuan Islam dan perbaikan kehidupan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan kepada kepintaran dan sikap kritis terhadap berbagai masalah kehidupaan, serta berbagai kritikan pedas yang ditujukannya kepada pemerintahan kolonial Belanda menjadikan berbagai pihak benci kepadanya. Pada tanggal 8 Agustus 1941, ia diasingkan oleh pemerintahan kolonial Belanda ke Sukabumi. Ia ditemani oleh istrinya, Dariyah dan putra bungsunya, Abdul Wadud. Selama di pengasingan, ia tetap aktif memberikan nasihat dan fatwa kepada masyarakat, khususnya warga dan pimpinan Muhammadiyah/Aisyiyah Sukabumi. Menurut penuturan Abdullah Halim, salah seorang Pimpinan Muhammadiyah Sukabumi, kepada Hamka : ”Setelah beliau (Abdul Karim Amrullah) mendapat tempat tinggal yang tetap di rumah tuan Iskandar di Cikirai No. 8, Sukabumi saya ajaklah kaum Muhammadiyah dan Aisyiyah menziarahi beliau dan dari sehari ke sehari ramailah kaum Muhammadiyah mendatangi beliau. Saya sendiri pun menjadi muridnya yang terutama. Belum lama beliau di Sukabumi pengaruh beliau telah mendalam. Kami dari cabang Muhammadiyah mendapat instruksi (perintah) dari pengurus Besar di Yogya, supaya merapati beliau agar menambah ilmu pengetahuan. ”

Selama, lebih kurang, sembilan bulan ia di Sukabumi, ketika Belanda menyerah kepada Jepang pada bulan Maret 1942, ia pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia tinggal di Gang Alhamra Sawah Besar dan kemudian pindah ke Gang Kebon Kacang IV No. 22 Tanah Abang. Sebagaimana ia tinggal di Sukabumi, di Jakarta ia juga sering memeberikan pengajian, nasihat, dan fatwa kepada jemaah dan murid-muridnya, baik di rumahnya sendiri maupun di mesjid-mesjid di sekitar tempat tinggalnya. Sementara itu, pemerintahan Jepang juga tengah mendekati orang-orang yang mempunyai pengaruh dalam masyarakat untuk membina hubungan, dan mencari dukungan. Untuk itu, Abdul Karim Amrullah termasuk salah seorang yang sering didatangi oleh para pembesar Jepang, seperti Kolonel Hori (Kepala Urusan Agama), Kolonel Okubo, Ubiko, Tufik Sazaki, Abdul Hamid Ono, Abdul Mun’im Inada (tiga nama yang terakhir, katanya, beragama Islam), dan lain-lain. Kemudian beliau diangkat menjadi penasihat Putera (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Empat Serangkai, yakni Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara (Soerjadi Soerjaningrat), dan K.H. Mas Mansoer. Sementara itu, ia juga diangkat pemerintahan Jepang sebagai penasihat Pusat Kebudayaan dan penasihat Pusat Keagamaan (Sumubu). Beliau semakin disegani oleh pemerintah Jepang setelah ia menyatakan secara jujur dan terus terang dalam menjelaskan masalah Sei Keirei (memberi hormat kepada kaisar Jepang, Tenno Heika, dengan membungkukkan badan ke arah Tokyo sejauh 90 derjat) dalam pandangan Islam. Secara tegas di-katakannya, jika kata Maha Esa yang dipakai penulis Wajah Semangat itu sama, tidak berarti lain dari sebutannya yang nyata, tentulah sekali-kali tidak dapat sesuai dengan ajaran Islam. Meskipun beliau dihormati dan disegani Jepang, namun karena ia tetap menyadari bahwa keberadaan tentara Jepang di Indonesia adalah untuk menyengsarakan dan menjajah bangsa Indonesia, maka beliau tetap saja benci dan tidak suka kepada Jepang. Ada konsistensi sikap Abdul Karim Amrullah dalam hal ini, dan tentunya juga konsisten dengan hal-hal lain yang dianggapnya tidak sesuai dengan substansi ajaran Islam. Hamka menjelaskan, kalau ada orang datang menganggukkan kepala meniru Jepang, maka berubah (merah) mukanya karena ia benci dengan sikap tersebut. Kemudian ia berkata “Sudah jadi Jepang pula ia”. Lebih kurang 3 tahun 2 bulan ia di Jakarta, dan dalam usia lebih kurang 66 tahun, yakni pada tanggal 2 Juli 1945 ia berpulang ke Rahmatullah. Berbagai kenyataan kehidupan yang dilalui Abdul Karim Amrullah, baik dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dengan segala seluk beluk serta ketentuan-ketentuan adat yang keras dan kehidupan agama yang butuh pembinaan, maupun pengalaman pendidikan dan perjalanannya ke beberapa daerah dan luar negeri, ternyata telah melatarbelakangi ide, gagasan, dan pemikiran keagamaannya dalam usaha pembaharuan dan perbaikan kehidupan masyarakat berdasarkan al-Qur`an dan Hadis.

Abdul Karim Amrullah, yang juga dikenal dengan Haji Rasul, merupakan salah seorang dari tiga serangkai pembaharu Islam di Minangkabau pada awal abad ke-20 M. Pada dasarnya, munculnya gagasan, ide, dan pemikiran pembaharuan yang ditawarkan oleh Abdul Karim Amrullah merupakan reaksi dan jawaban dari berbagai permasalahan umat yang muncul pada waktu itu. Kekalahan kaum Padri 1837 mengakibatkan kemunduran umat Islam di Minangkabau. Dari segi akidah, terlihat bercampurnya antara ajaran keimanan dan kemusyrikan yang berakibat kepada berkembangnya paham takhayul dan khurafat. Dari segi ibadah dan mu’amalah, semakin berkembang ajaran bid’ah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Suasana keagamaan hanya terlihat sangat menonjol pada upacara kematian, kenduri pengantin, maulud nabi, israk mikraj, dan lainnya yang bersifat seremonial. Di sisi lain, berkembangnya rasa fanatik yang berlebihan kepada guru (syekh) dan imam mazhab (dalam hal ini mazhab Syafi’i), ternyata menimbulkan sikap taqlid. Kondisi yang demikian, merupakan salah satu faktor pemicu bagi para pembaharu untuk mengadakan pembersihan Islam dari daki-daki yang mengotorinya, serta menjadikan al-Qur`an dan Hadis sebagai tempat rujukannya.

Setelah gerakan Padri dikalahkan Belanda tahun 1832, gerakan pembaharuan Islam seakan-akan terhenti di Minangkabau. Namun demikian, menurut Hamka bahwa kefakuman gerakan Islam itu hanya berlangsung beberapa waktu saja. Selang beberapa tahun setelah berakhirnya gerakan Padri, timbullah periode ketekunan belajar bagi putra-putra Minangkabau untuk menyauk ilmu agama Islam ke sumbernya sendiri, yakni ke negeri Mekkah. Diantara mereka adalah Syekh Ahmad Khatib dengan beberapa orang muridnya yang berasal dari Minangkabau, seperti Syekh Taher Jalaluddin, Syekh M. Thaib Umar, Syekh M Jamil Jambek, Syekh Abdullah Ahmad, Syekh Abdul Karim Amrullah, dan lain-lainnya. Mereka inilah yang pada gilirannya menjadi tokoh-tokoh pembaharu di Minangkabau. Dalam istilah Azyumardi Azra, mereka berperan menjadi transmitter utama tradisi intelektual keagamaan Islam dari pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah ke Nusantara. Gerakan pembaharuan yang dilakukan Abdul Karim Amrullah awal abad ke-20 di Minangkabau juga merupakan respons dari gelombang kebangkitan dunia Islam yang sedang didengungkan secara global (sebagai faktor eksternal). Umpa-manya, gerakkan purifikasi (pemurnian) Muhammad ibn Abd al-Wahab (1703-1792), gerakkan modernis (pembaharuan) oleh Jamaluddin al-Afghani (1839-1897), dan Muhammad Abduh (1849-1905), beserta kawan-kawan.

Media efektif yang membantu penyebaran gagasan pembaharuan itu masuk ke Indonesia adalah melalui jalur pelaksanaan ibadah haji. Umat Islam yang pergi ke tanah suci Mekkah, di samping menunaikan ibadah haji, juga sebagian mereka ada yang bermukim di sana untuk beberapa lama guna mendalami pengetahuan agama. Bahkan, diantara mereka ada yang melanjutkan petualangan intelektual mereka sampai ke Mesir. Pada waktu itu, Mesir merupakan pusat gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang dikampayekan oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan kawan-kawan. Demikian pula, telah tersebarnya buku-buku dan majalah-majalah yang berwawasan pembaharuan di Indonesia, seperti Al-Urwah al-Wutsqa, Al-Manar, dan Al-Imam. Pada dasarnya, pembaharuan yang dilakukan Abdul Karim Amrullah tidak terlepas dari jaringan ulama Timur Tengah dengan kepulauan Nusantara. Dalam hal ini Azyumardi Azra mengatakan, gejolak dan dinamika pemikiran yang muncul dari hubungan dan kontak yang begitu intens melalui jaringan ulama memunculkan efek revitalisasi Islam dalam kehidupan pribadi dan kemasyarakatan kebanyakan kaum Muslimin Melayu-Indonesia. Dengan demikian, ternyata pembaharuan yang dilakukan Abdul Karim Amrullah tidak terlepas dari keadaan yang mengitarinya dan suasana yang berkembang pada waktu itu. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh T. Ibrahim Alfian, bahwa pemikiran seseorang selalu merefleksikan jiwa zamannya, walaupun formulasinya dapat berupa refleksi yang akomodatif, progresif, dan bahkan reaktif. Di samping itu, H.A.R. Gibb, menjelaskan bahwa tidak ada gerakan pemikiran yang terjadi tanpa adanya tantangan dan pengaruh, baik yang muncul dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Besar dan kecil atau kuat dan lemahnya keterpengaruhannya itu tergantung pada kualitas dialektik yang terjadi padanya. Abdul Karim Amrullah juga dikenal sebagai tokoh pelopor dari gerakan Kaum Muda, yang senantiasa berkonsentrasi mengadakan berbagai perubahan untuk perbaikan, terutama dalam bidang pemikiran keagamaan. Dalam perjuangannya, ia mencoba memberikan jawaban dan jalan keluar terhadap berbagai krisis dan keprihatinan kehidupan beragama di Minangkabau saat itu. Ia adalah anak seorang tokoh tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Muhammad Amrullah atau Tuanku Kisai, di Sungai Batang Maninjau. Kepergiannya ke Mekkah selama tujuh tahun (1894-1901) untuk mempelajari ilmu agama, telah mengantarkannya kepada puncak kematangan. Salah seorang guru yang sangat berjasa dalam membentuk kepri-badiannya adalah Syekh Ahmad Khatib. Kemudian, ketika kepergiannya yang kedua kalinya ke Mekkah tahun 1904-1906, Abdul Karim Amrullah membuka halaqah sendiri atas reko-mendasi gurunya itu. Sekembalinya dari Mekkah, Abdul Karim Amrullah aktif memberikan pengajian dan ceramah agama di berbagai pelosok Minangkabau. Dalam setiap ceramah dan pengajian yang dipimpinnya, ia senantiasa melontarkan kritik pedas terhadap berbagai praktek-praktek agama yang telah bercampur-baur antara keimanan dan kemusyrikan dan antara ajaran Sunnah dan bid’ah. Beliau sangat menentang praktek-praktek keagamaan yang berbau taqlid, bid’ah, dan khurafat.

Di samping itu, beliau menyerukan agar umat Islam kembali kepada al-Qur`an dan Hadis serta dapat menggunakan pemikiran cerdasnya untuk berijtihad. Untuk itu, beliau berusaha mengadakan berbagai perbaikan dalam kehidupan beragama, baik dari segi akidah dan ibadah, maupun dari segi mu’amalah, dengan berpedoman kepada ajaran al-Qur`an dan Hadis. Menurut Nourouzzaman Shiddiqi, Abdul Karim Amrullah, sebagaimana juga para pembaharu Islam Indonesia lainnya, berkeyakinan dan berpendirian bahwa pemurnian akidah, memiliki kebebasan untuk berijtihad, dan menghidupkan kembali nilai-nilai Islam akan membuat Islam mampu menjawab tantangan zaman dan memenuhi kebutuhan masa kini. Bagi mereka, slogan “kembali kepada al-Qur`an dan Sunnah” bukan karena nostalgia masa lalu, yakni hendak kembali mundur ke masa kejayaan pada zaman awal Islam, melainkan merupakan satu pantulan sikap untuk menemukan kembali nilai-nilai Islam. Sementara itu, menurut Van Ronkel, sebagaimana dikutip Karel A. Steenbrink, Abdul Karim Amrullah adalah seorang guru agama yang fanatik memperjuangkan pemurnian agama. Untuk menyebarluaskan gagasan, ide, dan pemikiran, pembaharuan yang dilakukannya, menurut Hamka, Abdul Karim Amrullah bersama-sama Abdullah Ahmad dan kawan-kawan menerbitkan majalah Al-Munir tahun 1911 di Padang. Majalah ini tersebar luas ke berbagai pelosok Sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Malaya (Malaysia). Murni Djamal menyimpulkan bahwa pembaharuan yang dilakukan Abdul Karim Amrullah tercakup dalam tiga permasalahan, yakni pembersihan agama dari noda yang mengotorinya (taqlid bid’ah, dan khurafat), pembaharuan pen-didikan Islam dengan membangun Sumatra Thawalib, dan pembawa ajaran Muhammadiyah ke Minangkabau. Dalam berda’wah, Abdul Karim Amrullah senantiasa bersuara keras dan gigih dalam menegakkan agama, amar makruf nahyi mungkar.

Kebiasaannya menurut Hamka adalah pantang dibantah dan lekas marah. Sikapnya yang demikianlah, barangkali, yang dikatakan oleh James L. Peacock sebagai seorang yang bersifat keras dan punya kepribadian yang agresif serta emosional bila dibandingkannya dengan K.H.A. Dahlan, pencetus organisasi Muhammadiyah, yang orang Jawa dan lebih memiliki sifat suka kepada ketertiban dan tidak mudah tersinggung. Namun demikian, pembaharuan yang dilakukan Abdul Karim Amrullah tidak seagressif dan sekeras sifat yang terdapat pada gerakan Padri sebelumnya. Semangat dan sepak terjang pemikiran pembaharuannya tidak pernah padam. Hal ini dilakukannya, bukan saja melalui media tabligh (ceramah) di berbagai daerah Minangkabau serta mengelola pendidikan agama bagi murid-muridnya di Surau Jembatan Besi dan Sumatra Thawalib, melainkan juga melalui karya-karya tulisnya yang tersebar luas di tengah masyarakat. Tulisannya, ada yang berbentuk buku dan ada juga berbentuk artikel yang termuat dalam majalah al-Munir. Melalui karya tulisnya itu, berbagai ide, pemikiran, nasihat, maupun fatwanya dapat dijumpai. Hal ini dapat dijadikan pedoman dan bahan rujukan bagi masyarakat Minangkabau dan bahkan bagi umat Islam di kepulauan Nusantara (Indonesia) pada saat itu, dalam berbagai persoalan keagamaan. Dengan demikian, karya-karyanya tersebut tidak saja tersebar di pelosok Sumatra, tetapi juga di berbagai daerah di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Hal ini, ternyata memberikan warna tersendiri bagi perkembangan kehidupan beragama Islam di Minangkabau dan juga Indonesia pada umumnya. Namun demikian, saat ini, karya-karyanya tersebut, sulit dijumpai di tengah-tengah masyarakat, kecuali di beberapa perpustakaan dalam dan luar negeri saja.

Surat Pendek HAMKA Untuk Menteri Agama

Surat itu pendek. Ditulis oleh Hamka dan ditujukan pada Menteri Agama RI Letjen. H. Alamsyah Ratuperwiranegara. Tertanggal 21 Mei 1981, isinya pemberitahuan bahwa sesuai dengan ucapan yang disampaikannya pada pertemuan Menteri Agama dengan pimpinan MUI pada 23 April, Hamka telah meletakkan jabatan sebagai Ketua Umum Majeiis Ulama Indonesia (MUI). Buat banyak orang pengunduran diri Hamka sebagai Ketua Umum MUI mengagetkan. Timbul bermacam dugaan tentang alasan dan latar belakangnya. Agaknya sadar akan kemungkinan percik gelombang yang ditimbulkannya, pemerintah dalam pernyataannya mengharapkan agar mundurnya Hamka “jangan sampai dipergunakan golongan tertentu untuk merusak kesatuan dan persatuan bangsa, apalagi merusak umat lslam sendiri.”  Kenapa Hamka mengundurkan diri? Hamka sendiri  mengungkapkan pada pers, pengunduran dirinya disebabkan oleh fatwa MUI 7 Maret 1981. Fatwa yang dibuat Komisi Fatwa MUI tersebut pokok isinya mengharapkan umat Islam mengikuti upacara Natal, meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa. Menurut K.H.M. Syukri Ghozali, Ketua Komisi Fatwa MUI, fatwa tersebut sebetulnya dibuat untuk menentukan langkah bagi Departemen Agama dalam hal umat Islam. “Jadi seharusnya memang tidak perlu bocor keluar,” katanya.     

Fatwa ini kemudian dikirim pada 27 Maret pada pengurus MUI di daerah-daerah. Bagaimanapun, harian Pelita 5 Mei 1981 memuat fatwa tersebut, yang mengutipnya dari Buletin Majelis Ulama no. 3/April 1981. Buletin yang dicetak 300 eksemplar ternyata juga beredar pada mereka yang bukan pengurus MUI. Yang menarik, sehari setelah tersiarnya fatwa itu, dimuat pula surat pencabutan kembali beredarnya fatwa tersebut. Surat keputusan bertanggal 30 April 1981 itu ditandatangani oleh Prof. Dr. Hamka dan H. Burhani Tjokrohandoko selaku Ketua Umum dan Sekretaris Umum MUI. Menurut SK yang sama, pada dasarnya menghadiri perayaan antar agama adalah wajar, terkecuali yang bersifat peribadatan, antara lain Misa, Kebaktian dan sejenisnya. Bagi seorang Islam tidak ada halangan untuk semata-mata hadir dalam rangka menghormati undangan pemeluk agama lain dalam upacara yang bersifat seremonial, bukan ritual. Tapi bila itu soalnya, kenapa heboh? Rupanya “bocor”nya Fatwa MUI 7 Maret itu konon sempat menyudutkan Menteri Agama Alamsyah. Hingga, menurut sebuah sumber, dalam pertemuannya dengan pimpinan MUI di Departemen Agama 23 April, Alamsyah sempat menyatakan bersedia berhenti sebagai Menteri. Kejengkelan Menteri Agama agaknya beralasan juga. Sebab rupanya di samping atas desakan masyarakat, fatwa itu juga dibuat atas permintaan Departemen Agama. “Menteri Agama secara resmi memang meminta fatwa itu yang selanjutnya akan dibicarakan dulu dengan pihak agama lain. Kemudian sebelum disebarluaskan Menteri akan membuat dulu petunjuk pelaksanaannya,” kata E.Z. Muttaqien, salah satu Ketua MUI. Ternyata fatwa itu keburu bocor dan heboh pun mulai. Melihat keadaan Menteri itu, Hamka kemudian minta iin berbicara dan berkata, menurut seorang yang hadir, “Tidak tepat kalau saudara Menteri yang harus berhenti. Itu berarti gunung yang harus runtuh.” Kemudian inilah yang terjadi: Hamka yang mengundurkan diri. “Tidak logis apabila Menteri Agama yang berhenti. Sayalah yang bertanggungjawab atas beredarnya fatwa tersebut …. Jadi sayalah yang mesti berhenti,” kata Hamka pada Pelita pekan lalu. Tapi dalam penjelasannya yang dimuat majalah Panji Masyarakat 20 Mei 1981, Hamka juga mengakui adanya “kesalahpahaman” antara pimpinan MUI dan Menteri Agama karena tersiarnya fatwa itu.  

Kepada TEMPO Hamka mengaku sangat gundah sejak peredaran fatwa itu dicabut. “Gemetar tangan saya waktu harus mencabutnya. Orang-orang tentu akan memandang saya ini syaithan. Para ulama di luar negeri tentu semua heran. Alangkah bobroknya saya ini, bukan?” kata Hamka. Alasan itu agaknya yang mendorong lmam Masjid Al Azhar ini menulis penjelasan, secara pribadi, awal Mei lalu. Di situ Buya menerangkan: surat pencabutan MUI 30 April itu “tidaklah mempengaruhi sedikit juga tentang kesahan (nilai/kekuatan hukum) isi fatwa tersebut, secara utuh dan menyeluruh.” HAMKA juga menjelaskan, fatwa itu diolah dan ditetapkan oleh Komisi Fatwa MUI bersama ahli-ahli agama dari ormas-ormas Islam dan lembaga-lembaga Islam tingkat nasional — termasuk Muhammadiyah, NU, SI, Majelis Dakwah Islam Golkar. Buya Hamka tercatat sebagai ketua MUI pertama sejak tahun 1975. Keteguhannya memegang prinsip yang diyakini membuat semua orang menyeganinya. Pada zamam pemerintah Soekarno, Buya Hamka berani mengeluarkan fatwa haram menikah lagi bagi Presiden Soekarno. Otomatis fatwa itu membuat sang Presiden berang ’kebakaran jenggot’. Tidak hanya berhenti di situ saja, Buya Hamka juga terus-terusan mengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI waktu itu. Maka, wajar saja kalau akhirnya dia dijebloskan ke penjara oleh Soekarno. Bahkan majalah yang dibentuknya ”Panji Masyarat” pernah dibredel Soekarno karena menerbitkan tulisan Bung Hatta yang berjudul ”Demokrasi Kita” yang terkenal itu. Tulisan itu berisi kritikan tajam terhadap konsep Demokrasi Terpimpin yang dijalankan Bung Karno. Ketika tidak lagi disibukkan dengan urusan-urusan politik, hari-hari Buya Hamka lebih banyak diisi dengan kuliah subuh di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan. Ketika menjadi Ketua MUI, Buya Hamka meminta agar anggota Majelis Ulama tidak digaji. Permintaan yang lain: ia akan dibolehkan mundur, bila nanti ternyata sudah tidak ada kesesuaian dengan dirinya dalam hal kerjasama antara pemerintah dan ulama. Mohammad Roem, dalam buku Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka, menyebut masalah gaji itu sebagai bagian dari “politik Hamka menghadapi pembentukan Majelis Ulama”. Ulama mubaligh ini, menurut Roem, kuat sekali menyimpan gambaran “ulama yang tidak bisa dibeli“. Walaupun gaji sebenarnya tidak usah selalu menunjuk pada pembelian, kepercayaan diri ulama sendiri agaknya memang diperlukan. 

Biografi Buya AR Sutan Mansyur

Buya AR Sutan Mansyur
Ranah Minang pernah melahirkan salah seorang tokoh besar Muhammadiyah, yaitu Ahmad Rasyid Sutan Mansur, atau yang kemudian biasa dan popular dipanggil dengan AR. St. Mansur/A.R. Soetan Mansoer

Ia lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada Ahad malam Senin 26 Jumadil Akhir 1313 Hijriyah yang bertepatan dengan 15 Desember 1895 Masehi. Ia anak ketiga dari tujuh bersaudara yang merupakan karunia Allah pada kedua orang tuanya, yaitu Abdul Somad al-Kusai, seorang ulama terkenal di Maninjau, dan ibunya Siti Abbasiyah atau dikenal dengan sebutan Uncu Lampur. Keduanya adalah tokoh dan guru agama di kampung Air Angat Maninjau. Ahmad Rasyid memperoleh pendidikan dan penanaman nilai-nilai dasar keagamaan dari kedua orang tuanya. Di samping itu, untuk pendidikan umum, ia masuk sekolah Inlandshe School (IS) di tempat yang sama (1902-1909). Di sinilah ia belajar berhitung, geografi, ilmu ukur, dan sebagainya. Setamat dari sekolah ini, ia ditawari untuk studinya di Kweekschool (Sekolah Guru, yang juga biasa disebut Sekolah Raja) di Bukit tinggi dengan beasiswa dan jaminan pangkat guru setelah lulus sekolah tersebut. Namun tawaran tersebut ditolaknya, karena ia lebih tertarik untuk mempelajari agama, di samping saat itu ia sudah dirasuki semangat anti-penjajah Belanda. Sikap anti penjajah telah dimilikinya semenjak masih belia. Baginya, penjajahan tidak saja sangat bertentangan dengan fitrah manusia akan tetapi bahkan seringkali berupaya menghadang dan mempersempit gerak syiar agama Islam secara langsung dan terang-terangan atau sacara tidak langsung dan tersembunyi seperti dengan membantu pihak-pihak Zending dan Missi Kristen dalam penyebarluasan agamanya. Tidaklah mengherankan bila pada tahun 1928 ia berada di barisan depan dalam menentang upaya pemerintah Belanda menjalankan peraturan Guru Ordonansi yaitu guru-guru agama Islam dilarang mengajar sebelum mendapat surat izin mengajar dari Pemerintah Belanda. Peraturan ini dalam pandangan Sutan Mansur akan melenyapkan kemerdekaan menyiarkan agama dan pemerintah Belanda akan berkuasa sepenuhnya dengan memakai ulama-ulama yang tidak mempunyai pendirian hidup.

Sikap yang sama juga ia perlihatkan ketika Jepang berikhtiar agar murid-murid tidak berpuasa dan bermaksud menghalangi pelaksanaan shalat dengan mengadakan pertemuan-pertemuan di waktu menjelang Maghrib. Selanjutnya, atas saran gurunya, Tuan Ismail (Dr. Abu Hanifah) ia belajar kepada Haji Rasul, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh pembaharu Islam di Minangkabau. Di bawah bimbingan Haji Rasul selama tujuh tahun (1910-1917) ia belajar tauhid, bahasa Arab, Ilmu Kalam, Mantiq, Tarikh, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti syariat, tasawuf, Al-Qur'an, tafsir, dan hadits dengan mustolah-nya. Pada tahun 1917 ia diambil menantu oleh gurunya, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah, dan dikawinkan dengan putri sulungnya, Fatimah, kakak Buya HAMKA serta diberi gelar Sutan Mansur. Setahun kemudian ia dikirim gurunya ke Kuala Simpang Aceh untuk mengajar. Setelah dua tahun di Kuala Simpang (1918-1919), ia kembali ke Maninjau.

Pemberontakan melawan Inggris yang terjadi di Mesir untuk melanjutkan studinya di universitas tertua di dunia, Universitas al-Azhar Kairo, karena ia tidak diizinkan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk berangkat. Akhirnya ia berangkat ke Pekalongan untuk berdagang dan menjadi guru agama bagi para perantau dari Sumatera dan kaum muslim lainnya. Kegelisahan pikirannya yang selalu menginginkan perubahan dan pembaharuan ajaran Islam menemukan pilihan aktivitasnya, ketika ia berinteraksi dengan Ahmad Dahlan yang sering datang ke Pekalongan untuk bertabligh. Dari interaksi itu, akhirnya ia tertarik untuk bergabung dengan Persyarikatan Muhammadiyah (1922), dan mendirikan Perkumpulan Nurul Islam bersama para pedagang dari Sungai Batang Maninjau yang telah masuk Muhammadiyah di Pekalongan. Ketertarikan tersebut disebabkan karena ide yang dikembangkan Muhammadiyah sama dengan ide gerakan pembaharuan yang dikembangkan di Sumatera Barat, yaitu agar ummat Islam kembali pada ajaran Tauhid yang asli dari Rasulullah dengan membersihkan agama dari karat-karat adat dan tradisi yang terbukti telah membuat ummat Islam terbelakang dan tertinggal dari ummat-ummat lain. Di samping itu, ia menemukan Islam dalam Muhammadiyah tidak hanya sebagai ilmu semata dengan mengetahui dan menguasai seluk beluk hukum Islam secara detail sebagaimana yang terjadi di Minangkabau, tetapi ada upaya nyata untuk mengamalkan dan membuatnya membumi. Ia begitu terkesan ketika anggota-anggota Muhammadiyah menyembelih qurban seusai menunaikan Shalat Iedul Adha dan membagi-bagikannya pada fakir miskin.


Pada tahun 1923, ia menjadi Ketua Muhammadiyah Cabang Pekalongan, setelah ketua pertamanya mengundurkan diri karena tidak tahan menerima serangan kanan-kiri dari pihak-pihak yang tidak suka dengan keberadaan Muhammadiyah. Ia juga memimpin Muhammadiyah cabang Pekajangan, Kedung Wuni di samping tetap aktif mengadakan tabligh dan menjadi guru agama. Ketika terjadi ancaman dan konflik antara Muhammadiyah dengan orang-orang komunis di Ranah Minang pada akhir 1925, Sutan Mansur diutus Hoofdbestuur Muhammadiyah untuk memimpin dan menata Muhammadiyah yang mulai tumbuh dan bergeliat di Minangkabau. Kepemimpinan dan cara berdakwah yang dilakukannya tidak frontal dan akomodatif terhadap para pemangku adat dan tokoh setempat, sehingga Muhammadiyah pun dapat diterima dengan baik dan mengalami perkembangan pesat.
Pada tahun 1927 bersama Fakhruddin, ia melakukan tabligh dan mengembangkan Muhammadiyah di Medan dan Aceh. Melalui kebijaksanaannya dan kepiawaiannya dengan cara mendekati raja-raja yang berpengaruh di daerah setempat atau bahkan dengan menjadi montir, Muhammadiyah dapat didirikan di Kotaraja, Sigli, dan Lhokseumawe. Pada tahun 1929, ia pun berhasil mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di Banjarmasin, Kuala Kapuas, Mendawai, dan Amuntai. Dengan demikian, antara tahun 1926-1929 tersebut, Muhammadiyah mulai dikenal luas di luar pulau Jawa.

Selain dalam Muhammadiyah, Sutan Mansur – sebagaimana Ahmad Dahlan – pada dasawarsa 1920-an hingga 1930-an aktif dalam Syarikat Islam dan sangat dekat dengan HOS. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Keluarnya ia dari Syarikat Islam dapat dipastikan karena ia lebih memilih Muhammadiyah setelah SI mengambil tindakan disiplin organisasi bagi anggota Muhammadiyah. Kongres Muhammadiyah ke-19 di Minangkabau (14-26 Maret 1930) memutuskan bahwa di setiap karesidenan harus ada wakil Hoofdbestuur Muhammadiyah yang dinamakan Konsul Muhammadiyah. Oleh karena itu, pada tahun 1931 Sutan Mansur dikukuhkan sebagai Konsul Muhammadiyah (sekarang : Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) daerah Minangkabau (Sumatera Barat) yang meliputi Tapanuli dan Riau yang dijabatnya hingga tahun 1944. Bahkan sejak masuknya Jepang ke Indonesia, ia telah diangkat oleh Pengurus Besar Muhammadiyah menjadi Konsul Besar Muhammadiyah untuk seluruh Sumatera akibat terputusnya hubungan Sumatera dan Jawa.


Pada saat menjabat sebagai Konsul Besar Muhammadiyah, Sutan Mansur juga membuka dan memimpin Kulliyah al-Muballighin Muhammadiyah di Padang Panjang, tempat membina muballigh tingkat atas. Di sini dididik dan digembleng kader Muhammadiyah dan kader Islam yang menyebarluaskan Muhammadiyah dan ajaran Islam di Minangkabau dan daerah-daerah sekitar. Kelak muballigh-muballigh ini akan memainkan peran penting bersama-sama pemimpin dari Yogyakarta dalam menggerakkan roda persyarikatan Muhammadiyah.
Ia oleh Konsul-konsul daerah lain di Sumatera dijuluki Imam Muhammadiyah Sumatera. Ketika Bung Karno diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1938, Sutan Mansur menjadi penasehat agama Islam bagi Bung Karno. Pada masa pendudukan Jepang, ia diangkat oleh pemerintah Jepang menjadi salah seorang anggota Tsuo Sangi Kai dan Tsuo Sangi In (semacam DPR dan DPRD) mewakili Sumatera Barat. Setelah itu, sejak tahun 1947 sampai 1949 oleh wakil Presiden Mohammad Hatta, ia diangkat menjadi Imam atau Guru Agama Islam buat Tentara Nasional Indonesia Komandemen Sumatera, berkedudukan di Bukit tinggi, dengan pangkat Mayor Jenderal Tituler.

Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1950, ia diminta menjadi Penasehat TNI Angkatan Darat, berkantor di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Akan tetapi, permintaan itu ia tolak karena ia harus berkeliling ke semua daerah di Sumatera, bertabligh sebagai pemuka Muhammadiyah. Pada tahun 1952, Presiden Soekarno memintanya lagi menjadi penasehat Presiden dengan syarat harus memboyong keluarganya dari Bukit tinggi ke Jakarta. Permintaan itu lagi-lagi ditolaknya . Ia hanya bersedia menjadi penasehat tidak resmi sehingga tidak harus berhijrah ke Jakarta. Dalam konggres Masyumi tahun 1952, ia diangkat menjadi Wakil Ketua Syura Masyumi Pusat. Setelah pemilihan umum 1955, ia terpilih sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Konstituante dari Masyumi sejak Konstituante berdiri sampai dibubarkannya oleh presiden Soekarno. Tahun 1958 ketika pecah pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ) di Padang , ia pun berada di tengah-tengah mereka karena didasari oleh ketidaksukaannya pada PKI dan kediktatoran Bung Karno, meskipun peran yang dimainkannya dalam pergolakan itu diakuinya sendiri tidak terlalu besar.


Ia terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dalam dua kali periode kongres. Kongres Muhammadiyah ke-32 di Banyumas Purwokerto pada tahun 1953 mengukuhkannya sebagai Ketua PB Muhammadiyah periode tahun 1953-1956. Oleh karena itu, ia pun pindah ke Yogyakarta . Pada kongres berikutnya yaitu kongres Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang ia terpilih lagi menjadi ketua PB Muhammadiyah periode tahun 1956-1959. Dalam masa kepemimpinannya, upaya pemulihan roh Muhammadiyah di kalangan warga dan pimpinan Muhammadiyah digiatkan. Untuk itu, ia memasyarakatkan dua hal, pertama, merebut khasyyah (takut pada kemurkaan Allah), merebut waktu, memenuhi janji, menanam roh tauhid, dan mewujudkan akhlak tauhid; kedua, mengusahakan buq'ah mubarokah (tempat yang diberkati) di tempat masing-masing, mengupayakan shalat jamaah pada awal setiap waktu, mendidik anak-anak beribadah dan mengaji al-Qur'an, mengaji al-Qur'an untuk mengharap rahmat, melatih puasa sunat hari senin dan kamis, juga pada tanggal 13 ,14, dan 15 bulan Islam seperti yang dipesankan oleh Nabi Muhammad, dan tetap menghidupkan taqwa. Di samping itu juga diupayakan kontak-kontak yang lebih luas antar pemimpin dan anggota di semua tingkatan dan konferensi kerja diantara majelis dengan cabang atau ranting banyak di selenggarakan. Dalam periode kepemimpinannya, Muhammadiyah berhasil merumuskan khittahnya tahun 1956-1959 atau yang lebih populer dengan sebutan Khittah Palembang, yaitu :
(1). Menjiwai pribadi anggota dan pimpinan Muhammadiyah dengan memperdalam dan mepertebal tauhid, menyempurnakan ibadah dengan khusyu' dan tawadlu', mempertinggi akhlak, memperluas ilmu pengetahuan, dan menggerakkan Muhammadiyah dengan penuh keyakinan dan rasa tanggung jawab, (2). Melaksanakan uswatun hasanah, (3). Mengutuhkan organisasi dan merapikan administrasi, (4). Memperbanyak dan mempertinggi mutu anak, (5). Mempertinggi mutu anggota dan membentuk kader, (6). Memperoleh ukhuwah sesama muslim dengan mengadakan badan islah untuk mengantisipasi bila terjadi potensi keretakan dan perselisihan, dan (7). Menuntun penghidupan anggota.
Meskipun setelah 1959 tidak lagi menjabat ketua, Sutan Mansur yang sudah mulai uzur tetap menjadi penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah dari periode ke periode. Ia meski jarang sekali dapat hadir dalam rapat, konferensi, tanwir, dan Muktamar Muhammadiyah akan tetapi ia tetap menjadi guru pengajian keluarga Muhammadiyah.
Buya Sutan Mansur juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Dari beberapa tulisannya yang antara lain berjudul Jihad; Seruan kepada Kehidupan Baru; Tauhid Membentuk Kepribadian Muslim; dan Ruh Islam nampak sekali bahwa ia ingin mencari Islam yang paling lurus yang tercakup dalam paham yang murni dalam Islam. Doktrin-doktrin Islam ia uraikan dengan sistematis dan ia kaitkan dengan tauhid melalui pembahasan ayat demi ayat dengan keterangan al-Qur'an sendiri dan hadits.

Buya H. Ahmad Rasyid Sutan Mansur akhirnya meninggal pada hari Senin tanggal 25 Maret 1985 yang bertepatan 3 Rajab 1405 di Rumah Sakit Islam Jakarta dalam usia 90 tahun. Sang ulama, da'i, pendidik, dan pejuang kemerdekaan ini setiap hari Ahad pagi senatiasa memberikan pelajaran agama terutama tentang Tauhid di ruang pertemuan Gedung Muhammadiyah jalan Menteng Raya 62 Jakarta. Jenazah almarhum buya dikebumikan di Pekuburan Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan setelah dishalatkan di masjid Kompleks Muhammadiyah. Buya Hamka menyebutnya sebagai ideolog Muhammadiyah dan M. Yunus Anis dalam salah satu kongres Muhammadiyah mengatakan, bahwa di Muhammadiyah ada dua bintang. Bintang Timur adalah KH. Mas Mansur dari Surabaya, ketua PP Muhammadiyah 1937-1943 dan bintang Barat adalah AR. Sutan Mansur dari Minangkabau, ketua PP Muhammadiyah 1953-1959.

Diatas Runtuhan Melaka Lama

Written By Unknown on Jumat, 31 Agustus 2012 | 14.28

Diatas runtuhan Malaka Lama
Penyair termenung seorang diri
Ingat Melayu kala jayanya
Pusat kebesaran nenek bahari

Diatas munggu yang ketinggian
Penyair duduk termenung seorang
Jauh Pandangku ke pantai sana
Ombak memecah diatas karang



Awan berarak melintau bernyanyi
Murai berkicau, Bayu merayu
Kenang melayang kealam sunyi
Teringat zaman yang lama lalu

Sunyi dan sepi,hening dan lingau
Melambai sukma,melenyai tulang
Arwah Hang Tuah rasa menghimbau
Menyeru Umat tunduk ke Tuhan

Disini dulu adat kebesaran
Adat resam teguh berdiri
Duduk semayam yang dipertuan
Melimpah hukum segenap Negri
Disini dulu laksmana Hang Tuah
Satria moyang melayu jati
Jaya perkasa, gagah dan mewah
Tidak melayu hilang di bumi

Disini dulu payung terkembang
Megah Bendahara Seri maharaja
Bendahara yang cerdik tumpuan dagang
Lubuk budi laut bicara

Penyair menghadap kelaut lepas
Selat Malaka tenang membentang
Awan berarak riak menghempas
Mentari turun rembanglah petang

Wahai tuan selat malaka
Mengapa tuan berdiam diri
Tidakkah tau diuntung hamba
Hamba musyafir datang kemari

Dimana Daulat yang dipertuan
Mana hang Tuah,mana hang jebat
Mana Bendahara Johan Pahlawan
Kankah jelas didalam babad

Namanya tetap jadi sebutan
Bekasnya hilang payah mencari
Hanya sedikit bertemu kesan
Musnah dalam gulungan hari

Hanyalah ini bekas yang tinggal
Umat yang lemah terkatung-katung
Hidup menumpang tanah terjual
Larat wai larat di pukul untung

Adakah ini bekas peninggalan
Belahan diriku Umat Melayu
Lemah dan lunglai tiada karuan
Belahan diriku Umat Melayu

Jauh didarat penyair melihat
Gunung Ledang duduk termangu
Tinggi menjulang hijau dan dahsyat
Hiasan hikayat nenekku dulu

Didalam kuasyik merenung gunung
Didalam kemilau panaskan petang
Tengah Khayal dirundung menung
Rasanya ada orang yang datang

Penyair hanya duduk sendiri
Tepi keliling rasanya ramai
Bulu romaku rasa berdiri
Berbuah warna alam yang permai

Ada rasanya bisikan sayu
Hembus angin Digunung Ledang
Entah putri datang merayu
Padahal beta bukan meminang

Bukanlah hamba sutan melaka
Jembatan emas tak ada pada ku
Kekayaan hanya syair seloka
Hanya nyanyian untuk bangsaku

Tiba-tiba terdengar putri berkata
Suaranya halus masuk kesukma
Maksudmu tuan sudahlah nyata
Hendak mengenang riwayat yang lama

Bukan ku minta jembatan emas
Tapi nasihat hendaklah kuberi
Kenang-kenangan zaman yang lepas
I’tibar cucu kemudian hari

Sebelum engkau mengambil kesimpulan
Sebelum Portugis engkau kutuki
Inggeris Belanda engkau cemarkan
Ketahui dahulu salah sendiri

Sultan Mahmud Syah mula pertama
Meminang diriku ke gunang ledang
Segala pintaku baginda terima
Darah semangkok takut menuang

Adakan cita akan tercapai
Adakan hasil yang diinginkan
Jikak berbalik sebelum sampai
Mengorbankan darah tiada berani

Apakah daya Datuk Bendahara
Jikalau Sultan hanya tualang
Memikir diri seorang saja
Tidak mengingat rakyat yang malang

Sultan Ahmad Syah apalah akalnya
Walaupun Baginda inginkan sahid
Mu’alim Makhdum lemah imannya
Disini bukan tempat tauhid

Bendahara Tua Paduka raja
Walaupun ingin mati berjuang
Bersama hilang dengan Malaka
Anak cucunya hendak lari pulang

Berapa pula penjual Negeri
Menghartap emas perak bertimba
Untuk keuntungan diri sendiri
Biarlah bangsa menjadi hamba

Ini sebab nya umat kan jatuh
Baik dahulu atau sekarang
Inilah sebabnya kakinya lumpuh
Menjadi budak beliau orang

Sakitnya bangsa bukan diluar
Tetapi terhujum didalam nyawa
Walau diobat walau ditawar
Semangat hancur apalah daya

Janjian Tuhan sudah tajalli
Mulailah umat yang teguh iman
Allah tak pernah mungkirkan janji
Tarikh riwayat jadi pedoman

Tidaklah Allah mengubah untung
Suatu kaum dalam dunia
Jika hanya duduk termenung
Berpeluk lutut berputus asa

Malang dan mujur nasibnya bangsa
Turun dan naik silih berganti
Terhenyak lemah,naik perkasa
Bergantung atas usaha sendiri

Riwayat yang lama tutuplajh sudah
Apakah guna lama terharu
Baik berhenti termenung gundah
Sekarang buka lembaran baru

Habis sudah madahnya puteri
Ia pun ghaib khayalpun hilang
Tinggal penyair seorang diri
Dihadapan cahaya jelas membentang

Pantai malaka kulihat riang
Nampaklah ombak kejar mengejar
Bangunlah tuan belahan sayang
Seluruh timur sudahlah sadar

Bercermin pada sejarah moyang
Kita sekarang merubah nasib
Dizaman susah ataupun riang
Tolongan tetap dari yang Ghaib

Bangunlah kasih umat Melayu
Belahan asal satu turunan
Bercampur darah dari dahulu
Persamaan nasib jadi kenangan

Semangat yang lemah dibuang jauh
Jiwa yang kecil kita besarkan
Yakin percaya,imanpun teguh
Zaman hadapan ,penuh harapan

Bukanlah kecil golonganmu tuan
Tujuh puluh juta Indonesia
Bukanlah sedikit kita berteman
Sudahlah bangun bumi Asia

Kutarik nafas,kukumpul ingatan
Akupun tegak dari renungan
Jalan yang jauh aku teruskan
Melukis riwayat shafat hidupku

Kota Malaka tinggallah sayang
Beta nak balik kepulau parca
Walau terpisah engkau sekarang
Lambat launnya kembali pula
Walaupun luas watan terbentang
Danau Maninjau terkenang Jua....
(Karya HAMKA)
Ditulis Oleh Hanif Rasyid S.Pdi

BUYA HAMKA : Pahlawan Nasional dengan Integritas

Sebagaimana yang disampaikan oleh Prof Dr Azumardi Azra dalam kesaksian yang diberikan pada acara tasyakuran gelar pahlawan nasional Buya HAMKA, bahwa Buya HAMKA adalah pahlawan nasional yang penuh dengan integritas.

Prof Dr HAMKA agaknya bagi sebagian kalangan kurang begitu dikenal sebagai pejuang. Buya HAMKA lebih dikenal sebagai satrawan dan ulama; bukan sebagai pejuang bangsa. Akibatnya Buya HAMKA terlambat menerima gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah RI. Baru menjelang Hari Pahlawan 10 Nopember 2011 akhirnya Buya HAMKA mendapatkan penghargaan yang long overdue tersebut.

Meski demikian, rasa syukur patut diungkapkan dengan penghargaan negara atas jasa-jasa Buya HAMKA yang begitu lengkap dan kompleks dalam kehidupan umat/bangsa Indonesia.

HAMKA yang sejak selesai bertugas sebagai Konsul Muhammadiyah di Makasar pindah ke Medan (1936) juga aktif dalam perjuangan melawan Belanda. Karena kegiatannya melawan Belanda inilah HAMKA akhirnya merasa harus pindah ke Sumatera Barat pada 1945.

Kiprah HAMKA dalam perjuangan nasional sepanjang 1945- 1949 kian meningkat berbarengan dengan terjadinya perang revolusi menentang kembalinya Belanda. Pada tahun 1947 HAMKA diangkat menjadi ketua Barisan Perthanan Nasional dengan anggota Chatib Sulaeman, Udin, Rangkayo Rasuna Said dan Karim Halim. Selain itu HAMKA juga diangkat oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta sebagai sekretaris Front Pertahanan Nasional. Demikian sekelumit sejarah keterlibatan Buya HAMKA dalam kancah kepahlawanan Nasional sering terlewatkan tertutup oleh kemashuran beliau sebagai tokoh agama dan sastrawan di Indonesia.

Karya-Karya Hamka

Written By Unknown on Kamis, 30 Agustus 2012 | 14.55

Setelah dia kembali dari Jogya tahun 1924, setelah dia mendapatkan kursus pergerakan Islam dari H.O.S Cokroaminoto, H.Fakhrudin, R.M.Suryo Pranoto dan terutama dari abang iparnya sendiri A.R Sutan Mansyur yang pada waktu itu berada di Pekalongan.

Maka pada tahun 1925dia kembali ke Padang Panjang. Disinilah mulai bakat mengarang tumbuh. Buku pertama dikarangnya adalah KHATIBUL UMMAH.
Dalam tahun 1929 terbitlah buku-bukunya Agama dan Perempuan, Pembelaan Islam , Adat Minangkabau dan Agama Islam (Buku ini dibeslah Polisi Kompuni) Kepentingan Tabligh, Ayat-ayat Mi'raj dan lain-lain.
Dalam tahun 1930 mulailah dia mengarang dalam surat kabar Pembela Islam Bandung, dan berkenalan dengan M.Natsir (Perdana Menteri Pertama RI), A.Hasan dan lain-lain.
Ketika dia pnidah mengajar ke Makasar di terbitkannya majalah Al Mahdi. tahun 1936 menerbitkan mingguan Islam Pedoman Masyarakat, majalah ini di pimp[innya sendiri dari tahun 1936 sampai dengan 1943, ketika Jepang masuk.
Dizaman itulah banyak karangannya dalam bidang Agama, Filsafat, Tasauf, dan Roman, Ada yang ditulis di Pedoman Masyarakat, dan ada juga yang di tulis lepas.
Pada saat yang sama terbit pulalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Dibawah Lindungan Ka'bah, Merantau Kedelli, Terusir-usir, Keadilan Ilahi dan lain-lain.
Dalam hal Agama dan filsafat Tasauf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup , Lembaga Budi, Pedoman Mubaligh Islam dan lain-lain.
Dizaman Jepang itu pula dia coba menerbitkan buku Semangat Islam dan Sejarah Islam Sumatera.
Setelah pecah perang Revolusi, Buya Hamka pindah ke Sumatera Barat. Dikeluarkannya buku-buku yang cukup menggoncangkan yaitu, Revolusi Fikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, Negara Islam, Sesudah Naskah Renville, Muhammadiyah Melalui Tiga zaman, dari Lembah Cita-cita, Merdeka, Islam dan Demokrasi, Dilamun Ombak Masyarakat dan Menunggu Beduk Berbunyi.
Tahun 1950 Hamka pindah ke Jakarta, disini keluar buku-bukunya Ayahku, Kenang-Kenangan Hidup, Perkembangan Tasauf dari abad ke abad, Urang Tunggang Pancasila.
Riwayat perjalanan ke negeri-negeri Islam : Ditepi Sungai Nil, Ditepi Sungai Dajlah, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Empat Bulan di Amerika dan lain-lain.
Kian lama kian jelaslah coraknya sebagai pengarang Pujangga, dan filasuf Islam, diakui lawan dan kawan.
Pada tahun 1952 diangkat oleh Pemerintah jadi anggota Badan Pertimbangan Kebudayaan dan Kementrian PP dan K dan juga menjadi Guru Besar pada Perguruan Tinggi Islam dan Universitas Islam di Masar dan menjadi penasehat pada Kementrian Agama.
Disamping keasikan mempelajari Kesusasteraan Melayu Klasik, HAMKA pun sangat tekun mempelajari dan menyelidiki kesusasteraan Arab, sebab bahasa yang dikuasainya hanyalah semata-mata bahasa Arab. Drs. Slamet Mulyono, ahli tentang kesusasteraan Indonesia menyebutkan HAMKA sebagai hamzah Fanshuri zaman baru.
Pada tahun 1955 keluarlah buku-bukunya Pelajaran Agama Islam , Pandangan Hidup Muslim, Sejarah Hidup Jamaluddin Al Afghany dan Sejarah Umat Islam.
Karya-karya Buya HAMKA sebanyak 117 Judul. Buku-buku ini banyak ditangan kolektor, karena belum dicetak ulang.
Ditulis Oleh Hanif Rasyid S.Pdi



Pengunjung

Rekening Donasi



 
Copyright © 2012. Website Resmi MTs Muhammadiyah Sungai Batang - All Rights Reserved
Jl Lingkar Maninjau Km 5.5 Muaro Pauah Nagari Sungai Batang
Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam 26472
Support : Ranah Maninjau
Created by MPS